Dalam postingan blog ini, kita akan membahas secara detail bagaimana protein prion menyebabkan penyakit sapi gila dan bagaimana penyakit ini menyebar ke manusia.
Bagaimana penyakit sapi gila menular?
Pada tahun 2008, selama negosiasi perdagangan daging sapi sebagai bagian dari FTA Korea-AS, kesepakatan tercapai untuk mengizinkan impor daging sapi secara penuh; namun, karena penentangan publik yang meluas, negosiasi tersebut akhirnya menghasilkan kesepakatan untuk impor terbatas. Kekhawatiran utama di kalangan publik adalah bahwa "sapi yang terinfeksi penyakit sapi gila dapat diimpor ke Korea" dan bahwa "mengonsumsi daging dari sapi yang terinfeksi dapat menyebabkan penularan ke manusia." Dengan kata lain, ada kekhawatiran bahwa jika impor daging sapi tanpa batasan diizinkan, orang dapat tertular penyakit sapi gila dengan memakan daging sapi. Di tengah kekhawatiran ini, berbagai rumor tak berdasar menyebar di antara mereka yang tidak familiar dengan penyakit sapi gila, seperti klaim bahwa penyakit ini dapat ditularkan melalui udara. Jadi, apa penyebab dan mekanisme penularan penyakit sapi gila?
Penyebab Penyakit Sapi Gila: Protein Prion
Penyebab langsung penyakit sapi gila adalah partikel infeksius berupa protein yang disebut prion. Protein prion unik karena dapat ditransmisikan tanpa DNA atau RNA, dan ini merupakan faktor kunci dalam menjelaskan timbulnya penyakit sapi gila. Ketika protein prion normal yang ditemukan dalam tubuh manusia atau hewan mengalami kesalahan pelipatan dan berubah menjadi protein prion yang salah lipat, penyakit seperti penyakit sapi gila pun terjadi.
Protein terbentuk ketika asam amino berikatan bersama untuk menciptakan struktur terlipat, yang dapat diklasifikasikan menjadi struktur heliks alfa atau struktur lembaran beta seperti kipas. Umumnya, protein prion normal memiliki struktur heliks alfa, yang merupakan keadaan stabil dan fungsional. Namun, pada protein prion yang salah lipat, sebagian dari struktur heliks alfa berubah, mengubahnya menjadi struktur lembaran beta. Struktur yang salah lipat ini tidak mudah dipecah oleh protease dan terakumulasi, yang pada akhirnya mengganggu fungsi normal sel saraf.
Protein Amiloid dan Prion yang Salah Lipat
Suatu zat yang disebut amiloid memainkan peran penting dalam proses akumulasi protein prion yang salah lipat ini. Amiloid terbentuk ketika struktur lembaran beta yang terlipat secara abnormal mengikat protein lain, sebuah fenomena yang umum terjadi pada berbagai penyakit neurodegeneratif. Misalnya, amiloid ditemukan pada penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, dan penyakit sapi gila; ketika zat ini terakumulasi, ia mengganggu fungsi normal sel saraf dan akhirnya menyebabkan penyakit.
Pada penyakit sapi gila, ketika protein prion yang salah lipat menumpuk di sistem saraf pusat sapi, otak menjadi penuh dengan amiloid, yang menyebabkan hilangnya fungsi otak normal. Proses ini pada akhirnya memicu penyakit sapi gila, menyebabkan sapi menunjukkan perilaku abnormal atau mati karena masalah neurologis.
Rute Penularan Penyakit Sapi Gila
Mekanisme pasti bagaimana protein prion yang salah lipat menginfeksi protein prion normal belum sepenuhnya dipahami. Namun, hipotesis utama menunjukkan bahwa protein prion yang salah lipat berinteraksi langsung dengan protein prion normal untuk mengubah strukturnya, atau bahwa protein yang tidak diketahui yang ada di dalam tubuh menyebabkan protein prion normal salah lipat. Ketika protein prion yang salah lipat terus mengubah protein prion normal dan menumpuk di dalam tubuh sapi, BSE (penyakit sapi gila) berkembang.
BSE terutama ditularkan melalui konsumsi cairan tubuh atau daging sapi yang terinfeksi. Penting untuk dicatat bahwa karena protein prion yang salah lipat tidak hancur oleh suhu tinggi, mengonsumsi daging dari sapi yang terinfeksi BSE dapat menyebabkan penyakit Creutzfeldt-Jakob varian (vCJD) pada manusia.
Begitu protein prion yang salah lipat masuk ke dalam tubuh manusia, ia mengubah protein prion normal, yang dapat menyebabkan penyakit neurologis yang fatal.
Sejarah Penyakit Prion dan Penyebaran Penyakit Sapi Gila
Penyakit sapi gila terjadi secara besar-besaran di Inggris Raya pada tahun 1980-an, dan penyebab utamanya adalah penggunaan bangkai domba yang terinfeksi sebagai pakan ternak. Pada saat itu, bangkai domba digunakan sebagai pakan ternak untuk meningkatkan efisiensi industri daging, dan selama proses ini, penyakit prion yang disebut scrapie, yang terjadi pada domba, ditularkan ke sapi. Sapi yang mengonsumsi bangkai domba yang terinfeksi scrapie tertular BSE, dan karena bangkai sapi-sapi ini kemudian diberikan kepada sapi-sapi lain, BSE menyebar dengan cepat.
Dengan demikian, penyakit prion dapat menyebar dari satu spesies hewan ke spesies hewan lainnya; bahkan, telah dilaporkan kasus BSE yang ditularkan dari sapi ke manusia. Penularan ini bukan hanya masalah antara sapi dan manusia; hal ini telah menimbulkan kekhawatiran global yang signifikan terkait konsumsi daging dan metode produksi pakan.
Solusi dan Penelitian Masa Depan
Sampai saat ini, belum ada obat yang diketahui untuk penyakit prion, termasuk penyakit sapi gila. Mengembangkan pengobatan sangat sulit tanpa pemahaman penuh tentang bagaimana protein prion yang salah lipat mengubah protein normal. Namun, para ilmuwan terus melanjutkan penelitian mereka tentang protein prion, dan ada kemungkinan bahwa metode untuk mencegah atau mengobati penyakit ini dapat dikembangkan di masa depan.
Karena wabah penyakit sapi gila bermula di lingkungan industri, tanggung jawab manusia sangatlah besar. Oleh karena itu, menerapkan standar yang lebih ketat pada produksi dan pengelolaan pakan ternak serta menetapkan langkah-langkah pencegahan terhadap penyakit prion tetap menjadi tugas yang sangat penting.