Kehidupan yang altruistik bukanlah sekadar pengorbanan; itu adalah pilihan yang menguntungkan baik individu maupun masyarakat dalam jangka panjang. Kita akan mengeksplorasi mengapa perilaku egois pada akhirnya menyebabkan kerugian dan mengapa altruisme merupakan nilai penting dalam masyarakat manusia.
Apakah ada alasan untuk hidup dengan benar?
Sebelum membahas jawaban atas pertanyaan ini, kita harus terlebih dahulu mendefinisikan apa artinya hidup dengan benar. Di sini, kita akan mendefinisikan kehidupan yang "benar" sebagai kehidupan yang altruistik. Tindakan altruistik adalah tindakan yang menguntungkan orang lain tetapi mengakibatkan kerugian bagi pelakunya. Meskipun definisi hidup dengan benar sangat bervariasi dari orang ke orang, sebagian besar orang akan setuju bahwa kehidupan altruistik adalah kehidupan yang benar. Ini karena kehidupan altruistik adalah kehidupan yang bermoral, dan moralitas, meskipun tidak didefinisikan oleh hukum, didasarkan pada kesepakatan bersama di antara anggota masyarakat.
Contoh Nyata Kehidupan yang Altruistik: Proyek Kelompok
Proyek kelompok adalah contoh utama situasi di mana altruisme sangat penting bagi mahasiswa. Dalam proyek kelompok, skenario idealnya adalah setiap orang berpartisipasi aktif dan bekerja sama untuk memastikan proyek berhasil. Namun, ada orang yang "menumpang gratis"—yaitu, mereka tidak berkontribusi pada tugas kelompok dan malah bergantung pada upaya anggota kelompok lainnya. Menumpang gratis dalam kegiatan kelompok adalah tindakan yang sangat egois. Hal ini karena individu tersebut tidak melakukan pekerjaan apa pun, meningkatkan beban kerja bagi anggota lain, dan secara efektif mencuri hasil dari upaya orang lain. Bagaimana kita dapat mencegah penumpang gratis seperti itu?
Kita dapat memberikan sanksi bagi mereka yang tidak berkontribusi dan membujuk orang tersebut untuk bekerja sama dalam tugas kelompok. Secara khusus, salah satu cara untuk memberikan sanksi adalah dengan meminta anggota kelompok untuk mengevaluasi partisipasi satu sama lain setiap kali kegiatan kelompok berlangsung. Misalnya, "rata-rata" dapat diberi nilai 3 poin, "buruk" dan "sangat buruk" masing-masing 2 dan 1 poin, dan "sangat baik" dan "sangat baik" masing-masing 4 dan 5 poin. Untuk setiap kegiatan, rata-rata nilai evaluasi yang diberikan oleh anggota kelompok lain kepada setiap individu akan ditetapkan sebagai nilai partisipasi mereka untuk kegiatan tersebut. Setelah semua kegiatan kelompok selesai, jika nilai partisipasi rata-rata lebih rendah dari "rata-rata" 3 poin, sanksi akan diterapkan pada nilai siswa. Jika sanksi diterapkan dengan cara ini, siswa akan aktif berpartisipasi dalam kegiatan kelompok untuk menghindari sanksi. Lebih lanjut, persuasi akan mendorong individu untuk bertindak secara bertanggung jawab dengan mengingatkan mereka bahwa bekerja sama dalam tugas kelompok adalah tindakan altruistik yang bermanfaat bagi kelompok, sehingga mencegah mereka dari perilaku tidak berkontribusi.
Alasan untuk Menjalani Kehidupan yang Altruistik
Jadi, apakah ada alasan untuk menjalani kehidupan yang saleh—yaitu, kehidupan yang altruistik? Ada dua alasan mengapa manusia harus hidup saleh. Dari perspektif individu, perilaku egois pada akhirnya mengakibatkan kerugian, dan dari perspektif kelompok, perilaku altruistik menghasilkan manfaat.
Manfaat dari Perspektif Pribadi
Pertama, cara hidup yang egois pada akhirnya merugikan individu. Perilaku egois mungkin tampak bermanfaat dalam jangka pendek. Namun, karena manusia adalah makhluk sosial yang hidup dengan membentuk hubungan dengan orang lain, perilaku egois pada akhirnya merugikan individu. Misalnya, dalam proyek kelompok, individu yang tidak kooperatif kemungkinan besar akan dikucilkan dari kelompok. Dalam waktu singkat ketika kegiatan kelompok diperlukan, tidak mengerjakan tugas mungkin tampak bermanfaat bagi individu. Tetapi apa yang terjadi jika dilihat dari perspektif jangka panjang? Tindakan individu yang egois menyebabkan kerugian signifikan bagi anggota kelompok lainnya. Sangat tidak mungkin orang ini dapat mempertahankan hubungan baik dengan orang-orang yang telah dirugikannya. Lebih jauh lagi, menghindari tugas kelompok adalah tindakan yang merusak reputasi seseorang, sehingga sulit untuk menjalin hubungan dengan orang-orang di luar kelompok. Karena manusia tidak dapat bertahan hidup jika dikucilkan dari suatu kelompok, mereka tidak akan terlibat dalam perilaku egois.
Ada beberapa hipotesis yang menjelaskan mengapa manusia berevolusi untuk bertindak altruistik, dan ini dapat diringkas dalam dua teori: "hipotesis timbal balik berulang" dan "hipotesis burung yang sejenis berkumpul bersama." Hipotesis timbal balik berulang didasarkan pada prinsip timbal balik, yang menyatakan bahwa seseorang membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan dan kejahatan orang lain dengan kejahatan. Argumennya adalah bahwa orang terlibat dalam perilaku altruistik karena pembalasan lebih menguntungkan daripada tidak membalas, dan karena ada kemungkinan pihak lain akan membalas jika seseorang bertindak sebagai penumpang gelap. Karena prinsip timbal balik ini berlaku dalam situasi berulang, orang-orang dengan kecenderungan egois—yang menerima bantuan dari orang lain tanpa menawarkan bantuan sebagai imbalan—tidak akan mampu bertahan hidup dalam kelompok tersebut. Oleh karena itu, menurut hipotesis timbal balik berulang, individu yang egois akan menghadapi kesulitan dalam bertahan hidup. Hipotesis "burung yang sejenis berkumpul bersama" menyatakan bahwa orang yang kooperatif cenderung berinteraksi dengan orang kooperatif lainnya, sementara orang yang egois cenderung berinteraksi dengan orang egois lainnya. Kecenderungan ini cocok untuk mempertahankan perilaku kooperatif dan dengan demikian untuk evolusi manusia ke arah tersebut. Ini berarti bahwa orang-orang egois bergaul dengan orang-orang egois lainnya, sementara orang-orang altruistik bergaul dengan orang-orang altruistik lainnya. Teori ini dapat menjelaskan mengapa reputasi seseorang dapat menurun selama proyek kelompok. Jika reputasi seseorang memburuk karena partisipasi yang kurang baik dalam proyek kelompok, kebanyakan orang akan enggan berinteraksi dengan seseorang yang memiliki reputasi buruk seperti itu, sehingga menyebabkan kecenderungan bagi individu altruistik untuk bergaul satu sama lain.
Manfaat dari Perspektif Kelompok
Kedua, perilaku altruistik bermanfaat dari perspektif kelompok secara keseluruhan. Seleksi kelompok mengacu pada proses di mana prospek kelangsungan hidup kelompok bervariasi tergantung pada sifat-sifat yang mereka miliki atau proporsi individu dengan sifat-sifat tertentu di dalamnya, sehingga menentukan apakah sifat-sifat tersebut akan menyebar ke seluruh kelompok atau menghilang. Proses seleksi kelompok inilah yang memungkinkan manusia untuk mengembangkan sifat-sifat altruistik.
Sejarah juga menegaskan kebenaran hal di atas. Pertama, kelompok dengan proporsi individu altruistik yang tinggi memiliki peluang lebih besar untuk menang dalam konflik antar kelompok. Selanjutnya, selama tahap berburu dan mengumpulkan—yang sangat penting sebelum manusia memasuki masyarakat pertanian—keberhasilan perburuan bergantung pada tingkat kerja sama altruistik di antara para peserta. Terakhir, kita dapat melihat bahwa selama evolusi manusia, orang-orang harus bertahan hidup di berbagai lingkungan yang keras, dan agar suatu kelompok dapat bertahan hidup dalam jangka panjang, kelompok tersebut perlu memiliki sejumlah besar individu altruistik.
Dasar Evolusi Perilaku Altruistik
Seleksi kelompok dapat menjelaskan mengapa manusia berevolusi untuk terlibat dalam perilaku altruistik. Namun, dari perspektif seleksi individu, perilaku egois mungkin menguntungkan bagi kelangsungan hidup individu. Mengapa laju seleksi kelompok lebih cepat daripada seleksi individu? Alasannya adalah, tidak seperti masyarakat hewan, masyarakat manusia diatur oleh norma. Meskipun manfaat langsung dari perilaku egois mungkin melebihi manfaat dari perilaku altruistik, norma memastikan bahwa hasil dari perilaku altruistik pada akhirnya melampaui hasil dari perilaku egois; dengan demikian, perilaku altruistik telah berevolusi sebagai tindakan yang menguntungkan.
Manusia memiliki alasan untuk hidup secara altruistik. Alasan ini dapat ditemukan dari perspektif individu maupun kelompok. Hal ini karena perilaku altruistik pada akhirnya menguntungkan baik individu maupun kelompok. Konsekuensi dari perilaku altruistik dapat mengakibatkan kerugian jangka pendek atau materiil. Namun, jika dilihat dari perspektif jangka panjang atau psikologis, jelas bahwa hal itu memberikan manfaat. Oleh karena itu, manusia memiliki alasan untuk hidup secara altruistik—yaitu, untuk hidup dengan benar.