Tulisan blog ini mengkaji mengapa Depresi Besar, yang dimulai di AS pada tahun 1929, menyebar ke seluruh dunia dan apakah hal itu dapat dicegah, dengan menelusuri penyebab dan latar belakangnya.
Apa penyebab sebenarnya dari Depresi Hebat?
Depresi Besar yang melanda dunia pada tahun 1930-an merupakan kemerosotan ekonomi yang luar biasa parah dan berkepanjangan dalam sejarah kapitalisme. Dampaknya melampaui batas negara, memengaruhi seluruh dunia, dan dampaknya jauh melampaui sekadar krisis ekonomi, yang menyebabkan gejolak besar di seluruh masyarakat dan politik. Episentrum Depresi Besar tak lain adalah Amerika Serikat, yang secara simbolis ditandai dengan jatuhnya pasar saham di Bursa Efek New York pada akhir tahun 1929. Jadi, apa sebenarnya yang salah?
Bayangan Ketimpangan yang Menaungi Kemakmuran
Di permukaan, Amerika Serikat pada tahun 1920-an menikmati kemakmuran ekonomi yang mencengangkan. Produktivitas meningkat pesat, dan masyarakat konsumsi massal mulai mengakar, seolah-olah menghadirkan model kapitalisme yang dinamis. Namun, di balik kedok ini tersimpan masalah struktural yang serius.
Meskipun konsumsi massal tersebar luas di masyarakat Amerika pada saat itu, ketimpangan pendapatan dan kekayaan terus memburuk. Hal ini menyebabkan penurunan daya beli mayoritas penduduk secara bertahap, menciptakan ketidakseimbangan yang berbahaya antara kelebihan produksi dan kurangnya permintaan.
Industri inti yang mendorong pertumbuhan ekonomi adalah sektor barang konsumsi tahan lama. Industri otomotif adalah contoh simbolis; pada tahun 1928, satu dari enam orang Amerika memiliki mobil. Mengingat distribusi pendapatan pada saat itu, ini berarti permintaan pembelian mobil telah mencapai batasnya. Pembangunan perumahan oleh sektor swasta juga menjadi mesin pertumbuhan sementara, tetapi segera mencapai titik jenuh yang tidak memerlukan investasi lebih lanjut.
Lalu, apa yang mungkin dikonsumsi orang kaya, yang sudah memiliki rumah besar dan banyak mobil, selanjutnya? Akhirnya, mereka beralih bukan ke investasi produktif, melainkan ke 'pasar spekulatif'—pasar saham. Bahkan, petani biasa pun ikut tergila-gila dengan spekulasi ini, mengambil pinjaman bank untuk terjun ke pasar saham. Namun, yang menanti mereka adalah mimpi buruk kebangkrutan, yang terlalu mengerikan untuk dibayangkan.
Mengapa kebijakan moneter FRB gagal?
Salah satu faktor kunci yang sering dikutip sebagai penyebab memburuknya Depresi Besar adalah kebijakan moneter Dewan Federal Reserve AS (FRB). Saat itu, sebagian besar direktur dari 12 bank sentral regional di bawah FRB berasal dari bank-bank anggota. Mereka memiliki pola pikir yang serupa dengan lembaga keuangan lokal dan sebagian besar kurang terampil dalam merespons kebijakan makroekonomi maupun operasional kebijakan moneter.
Bagaimana individu yang tidak siap tersebut menanggapi pasar saham yang secara bertahap menjadi terlalu panas pada saat itu?
Meskipun FRB tidak dapat secara langsung mengendalikan pasar saham, FRB dapat secara tidak langsung memengaruhi kebijakan pinjaman bank dengan menyesuaikan suku bunga diskonto. Bahkan, untuk mendinginkan pasar saham yang terlalu panas, FRB menaikkan suku bunga diskonto, sehingga mempersulit bank untuk meminjamkan dana guna membeli saham. Namun, ekspektasi para spekulan akan keuntungan tinggi dari investasi saham tetap teguh; mereka terus meminjam, dengan risiko yang bahkan lebih besar.
Bank juga meminjamkan dengan jaminan saham milik nasabah mereka. Meskipun hal ini tidak menjadi masalah selama harga saham terus naik, begitu harga turun, nilai agunan anjlok, yang pada akhirnya menyebabkan runtuhnya struktur kredit itu sendiri.
Akhirnya, ketika pasar saham anjlok pada tahun 1929, FRB melewatkan kesempatan penting untuk membalikkan keadaan. Alih-alih memperluas pasokan uang untuk mengamankan likuiditas pasar, FRB justru memilih kebijakan mengurangi pasokan uang. Hal ini menyebabkan deflasi parah, dan kenaikan suku bunga riil membekukan sentimen investasi perusahaan. Tepat pada titik inilah, kejatuhan pasar saham yang sederhana berkembang menjadi Depresi Besar yang dahsyat.
Penyebaran Depresi Hebat Secara Global: Di Mana Sistem Kredit Internasional?
Jadi, mengapa guncangan Depresi Besar ini menyebar ke seluruh dunia? Untuk menjelaskannya, kita perlu memahami sistem keuangan internasional, khususnya kondisi Standar Emas.
Standar Emas internasional, yang ditangguhkan selama Perang Dunia I, diberlakukan kembali setelah perang, tetapi secara struktural tetap sangat tidak stabil. Pemain utama dalam sistem kredit internasional saat itu adalah Amerika Serikat, negara kreditor terbesar setelah perang.
AS menikmati surplus besar dalam neraca pembayaran internasionalnya melalui bunga atas ekspor modal dan pembayaran pokok serta bunga utang perang. Dikombinasikan dengan kebijakan perdagangan proteksionis tradisionalnya, hal ini juga menghasilkan surplus perdagangan. Akibatnya, negara-negara debitur hampir mustahil untuk membayar utang mereka melalui perdagangan, yang menyebabkan aliran masuk emas yang terus meningkat ke Amerika Serikat.
Seandainya aliran masuk emas ini menyebabkan peningkatan jumlah uang beredar dan inflasi, situasinya mungkin akan mereda. Namun, pemerintah AS dengan tegas menentang inflasi, dan Federal Reserve memilih 'kebijakan sterilisasi'—menyerap aliran masuk emas alih-alih melepaskannya ke pasar.
Faktanya, agar standar emas internasional berfungsi secara stabil, keberadaan "lender of last resort" yang kuat sangatlah penting. Berbeda dengan Bank of England, yang sebelumnya telah memainkan peran ini, Federal Reserve AS semata-mata berfokus pada stabilitas harga domestik, bukan stabilitas keuangan internasional. Pada akhirnya, AS secara efektif mengabaikan aturan standar emas internasional, dan akibatnya, Depresi Besar meluas menjadi bencana global.
Apakah Depresi Hebat tidak dapat dihindari?
Meskipun sejarah tidak mengenal "bagaimana jika", banyak sejarawan ekonomi menilai bahwa jika Amerika Serikat mengadopsi kebijakan moneter dan fiskal yang lebih terbuka dan proaktif pada tahun 1920-an, khususnya selama periode kritis tahun 1929 hingga 1933, Depresi Besar pasti dapat dikurangi atau dipersingkat baik dalam skala maupun durasinya.
Implikasi ini tetap berlaku dalam sistem ekonomi global saat ini. Sejarah diam-diam membuktikan betapa pentingnya untuk tidak mengabaikan tanda-tanda peringatan makroekonomi dan merancang sistem keuangan dengan kerja sama internasional dan kemampuan respons yang fleksibel.
Kesimpulan
Depresi Besar tahun 1930-an melampaui sekadar krisis keuangan, menjadi kesempatan untuk refleksi fundamental dan perancangan ulang sistem kapitalis secara keseluruhan. Kita, yang hidup di era ini, juga harus meninjau kembali pelajaran dari Depresi Besar dalam menghadapi krisis ekonomi yang berulang.
Depresi Besar bukanlah bencana yang terjadi secara kebetulan. Depresi Besar adalah "krisis yang sudah diramalkan", yang diakibatkan oleh pertumbuhan yang tidak seimbang, kebijakan moneter yang tidak bijaksana, dan sistem keuangan internasional yang tidak bertanggung jawab. Dan sejarahnya bertanya kepada kita: Apakah kita siap untuk menghindari mengulangi kesalahan yang sama?