Tulisan blog ini membahas mengapa perusahaan harus mempertimbangkan laba jangka panjang dan tanggung jawab sosial daripada keuntungan jangka pendek.
Sistem ekonomi kapitalis menjamin hasrat manusia untuk mengejar keuntungan secara maksimal. Perusahaan, yang lahir dari tujuan mencari keuntungan, memainkan peran sentral dalam sistem kapitalis sebagai agen utama produksi. Oleh karena itu, keuntungan menjadi motivasi yang mendorong para wirausahawan untuk memulai bisnis.
Keuntungan bisa bersifat jangka pendek, yang langsung terwujud, atau jangka panjang, yang terus-menerus terwujud dalam jangka waktu yang panjang. Agar perusahaan dapat bertahan dan tumbuh dalam jangka panjang, mengejar keuntungan jangka panjang lebih penting daripada keuntungan jangka pendek. Memang, ketika memaksimalkan keuntungan jangka pendek berbenturan dengan memaksimalkan keuntungan jangka panjang, perusahaan terkadang dengan berani mengabaikan keuntungan jangka pendek. Pertimbangkan kasus seorang dokter gigi yang menganjurkan menyikat gigi tiga kali sehari. Jika semua orang mengikuti anjuran ini, kesehatan gigi masyarakat akan membaik, sehingga mengurangi keuntungan jangka pendek dokter gigi tersebut. Namun, karena banyak orang akan mempertahankan gigi mereka lebih lama, dokter gigi tersebut akan mengamankan pelanggan jangka panjang. Sebaliknya, jika orang menyikat gigi lebih jarang, keuntungan jangka pendek mungkin meningkat, tetapi keuntungan jangka panjang akan menurun karena semakin banyak orang yang membutuhkan gigi palsu.
Pada masa awal kapitalisme, bisnis tidak perlu membedakan antara keuntungan jangka pendek dan jangka panjang. Dalam kondisi persaingan bebas di antara para kapitalis kecil, mengabaikan keuntungan—baik jangka pendek maupun jangka panjang—berarti langsung tersingkir dari persaingan. Akibatnya, untuk bertahan dalam persaingan yang ketat, bisnis memaksimalkan penggunaan sumber daya yang tersedia secara efisien untuk memasok barang dengan harga serendah mungkin. Ini berarti bahwa pengejaran keuntungan perusahaan pada akhirnya akan meningkatkan kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Pada tahap ini, karena pemilik perusahaan juga merupakan manajer, tujuan perusahaan difokuskan pada pengejaran keuntungan kapitalis.
Namun, seiring perusahaan tumbuh secara bertahap dan aktivitas manajemen menjadi lebih kompleks, manajer dengan keterampilan manajemen khusus menjadi dibutuhkan. Akibatnya, kepemilikan dan manajemen dipisahkan, sehingga meningkatkan efisiensi manajemen. Namun, di saat yang sama, perusahaan mulai mengalami konflik antara keuntungan jangka pendek dan jangka panjang. Hal ini disebabkan oleh manajer profesional, yang dipercaya mengelola perusahaan sebagai agen pemegang saham, cenderung memprioritaskan keuntungan jangka pendek daripada prospek jangka panjang perusahaan untuk menunjukkan kecakapan manajerial mereka. Para pemegang saham berusaha memaksimalkan tidak hanya kepentingan mereka sendiri tetapi juga keuntungan jangka panjang perusahaan dengan memantau aktivitas manajemen yang tidak efisien tersebut.
Di era modern, kompleksitas manajerial ini semakin meningkat, dan perusahaan-perusahaan cenderung mengejar tujuan-tujuan pluralistik yang tidak hanya mencakup keuntungan ekonomi tetapi juga manfaat sosial. Hal ini mencerminkan bagaimana masyarakat modern telah bertransformasi menjadi masyarakat pluralistik yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan, alih-alih hanya satu otoritas. Khususnya, perusahaan-perusahaan masa kini harus secara bersamaan mempertimbangkan tuntutan dari berbagai kelompok kepentingan seperti serikat pekerja, kelompok konsumen, organisasi lingkungan, masyarakat lokal, dan pemerintah. Pengaruh para pemangku kepentingan ini terhadap aktivitas perusahaan terus meningkat, dan perusahaan berisiko kehilangan pertumbuhan dan kelangsungan hidup jangka panjang jika mengabaikan tuntutan-tuntutan ini.
Agar perusahaan dapat bertahan dan berkembang dalam jangka panjang sebagai anggota masyarakat yang majemuk ini, perusahaan tidak hanya harus memaksimalkan nilai pemegang saham tetapi juga memenuhi tuntutan dan harapan berbagai kelompok pemangku kepentingan. Dalam proses ini, perusahaan harus mengejar manfaat jangka panjang dengan memenuhi tanggung jawab sosialnya dan menerapkan manajemen yang berkelanjutan. Hanya dengan demikian, kepentingan jangka panjang perusahaan dapat terjamin, yang pada gilirannya juga akan meningkatkan kepentingan masyarakat secara keseluruhan.