Tulisan blog ini mengkaji bagaimana bioteknologi dan modifikasi genetik mengubah kemampuan dan identitas manusia, mempertanyakan apakah manusia yang ditingkatkan masih dapat dianggap sebagai 'Homo sapiens'.
Memasuki abad ke-21, kehidupan kita telah mengalami perubahan yang benar-benar mendalam. Kemajuan dalam teknologi medis telah membawa kita ke era harapan hidup 100 tahun. Melalui pemetaan genetik—proses penguraian seluruh urutan DNA—kita telah mengidentifikasi gen penyebab penyakit dan mengembangkan obat-obatan untuk mengobati gangguan genetik ini. Teknologi bioteknologi dan medis mutakhir yang tak terhitung jumlahnya yang saat ini sedang diteliti akan membawa transformasi besar lainnya bagi umat manusia. Mungkin akan ditemukan metode agar manusia dapat hidup selamanya. Tetapi dapatkah kita mengatakan bahwa memperpanjang umur manusia berarti akhir dari Homo sapiens, atau umat manusia, tidak akan datang? Sebaliknya, karena kemajuan pesat dalam sains dan teknologi ini, bukankah kita sedang menuju akhir dari Homo sapiens?
Manusia telah berevolusi hingga saat ini sesuai dengan hukum alam seleksi alam. Sama seperti jerapah berleher panjang yang bertahan hidup dalam persaingan seleksi alam dengan mampu memakan dedaunan dari tempat tinggi, yang mengarah pada bentuknya saat ini, manusia juga telah beradaptasi dengan alam dan mengikuti aliran seleksi alam. Namun, manusia sekarang melampaui diri mereka sendiri dengan mengabaikan hukum alam satu per satu, berdasarkan rancangan intelektual mereka sendiri—memanipulasi gen, menciptakan spesies baru, dan sebagainya.
Salah satu contoh utama bagaimana manusia menggantikan seleksi alam melalui desain intelektual adalah bioteknologi. Bioteknologi merujuk pada teknologi atau disiplin ilmu yang menghasilkan manfaat bagi manusia pada tingkat biologis, seperti melalui transfer gen. Disiplin ilmu ini tidak tiba-tiba muncul di abad ke-21, tetapi telah berkembang bersama umat manusia sejak lama. Misalnya, di zaman kuno, orang-orang mengebiri banteng untuk menciptakan banteng yang kurang agresif untuk pekerjaan pertanian, atau mengebiri manusia dari spesies yang sama untuk menciptakan penyanyi sopran atau kasim. Namun, bioteknologi saat ini berkembang pesat seiring dengan pemahaman umat manusia tentang bagaimana organisme hidup berfungsi pada tingkat seluler dan inti sel. Pada tahun 1996, para ilmuwan melakukan penelitian dengan menanamkan tulang rawan sapi ke punggung tikus untuk mengatur pertumbuhan jaringan baru, memprediksi bahwa teknologi ini dapat digunakan untuk menciptakan telinga buatan yang dapat ditransplantasikan ke manusia. Dan hanya satu atau dua tahun yang lalu, sebuah operasi benar-benar berhasil: seorang pasien yang kehilangan telinga dalam kecelakaan lalu lintas memiliki telinga yang tumbuh di lengan kanannya, yang kemudian ditransplantasikan kembali ke posisi asalnya. Lebih jauh lagi, rekayasa genetika memiliki potensi yang lebih menakjubkan.
Meskipun rekayasa genetika memiliki potensi yang luar biasa, hal itu secara bersamaan menimbulkan masalah etika dan politik yang terus-menerus. Akibatnya, saat ini kita hanya memanfaatkan sebagian kecil potensinya, menerapkan rekayasa genetika terutama pada organisme terbatas seperti tumbuhan, serangga, dan bakteri. Meskipun demikian, para ilmuwan telah mencapai banyak terobosan. Gen dari E. coli dan berbagai jamur telah dimanipulasi untuk memproduksi insulin secara massal, dan gen tahan dingin yang diekstrak dari ikan Arktik telah berhasil dimasukkan ke dalam kentang untuk menciptakan varietas tahan embun beku. Lebih jauh lagi, beberapa mamalia juga sedang dipelajari sebagai subjek rekayasa genetika. Jadi, bukankah rekayasa genetika generasi berikutnya pada akhirnya akan berkembang menuju penerapan pada manusia? Jika manusia dapat dimodifikasi menjadi bentuk yang diinginkan dengan memasukkan atau menghilangkan gen tertentu bahkan sebelum lahir, dapatkah manusia tersebut benar-benar masih disebut Homo sapiens?
Kemajuan teknologi manipulasi genetik membuat orang membayangkan masa depan di mana teknologi ini benar-benar diterapkan pada manusia. Dalam film “My Sister's Keeper,” tokoh utama Anna harus menjalani operasi untuk mendonorkan sumsum tulang kepada saudara perempuannya, Kate, yang menderita leukemia myeloid akut. Hal ini karena Anna adalah "bayi hasil rekayasa genetik," yang dikandung melalui fertilisasi in vitro dan direkayasa secara genetik agar memiliki kecocokan jaringan yang sempurna dengan Kate. Akibatnya, Anna terpaksa menjalani operasi di luar kehendaknya. Ia akhirnya menggugat ibunya, menuntut hak untuk membuat keputusan medisnya sendiri. Film lain, “Gattaca,” menggambarkan masyarakat di mana takdir dan kehidupan manusia ditentukan berdasarkan genetika. Film ini mengkategorikan orang yang lahir melalui cara buatan sebagai 'berkualifikasi' dan mereka yang lahir secara alami sebagai "tidak berkualifikasi," dengan masyarakat mengevaluasi individu semata-mata melalui pengujian genetik. Bagaimana jika, sebelum manusia lahir, pengujian genetik dilakukan untuk menghilangkan gen yang tidak perlu dan memasukkan gen yang diperlukan? Bagaimana jika gen-gen tersebut menjadi standar yang mendefinisikan seluruh kehidupan seseorang? Bisakah kita kemudian mengklasifikasikan individu yang lahir secara alami sebagai tidak berkualifikasi dan individu yang lahir secara buatan sebagai berkualifikasi? Bukankah seharusnya kita mengklasifikasikan manusia yang lahir secara alami sebagai Homo sapiens dan manusia hasil rekayasa genetika sebagai non-Homo sapiens?
Dengan kemajuan pesat dalam bioteknologi, kita telah mencapai era pengobatan personal di mana perawatan disesuaikan dengan DNA pasien berdasarkan penelitian genetik. Lalu, bagaimana jika pengobatan berkembang lebih jauh ke era di mana kemampuan manusia sendiri ditingkatkan? Pertimbangkan penyakit Alzheimer, contoh utama penyakit serius yang masih belum dapat disembuhkan oleh pengobatan modern. Alzheimer adalah gangguan otak degeneratif utama dan bentuk demensia yang paling umum, namun pengobatan modern masih belum mampu mengobatinya. Bagaimana jika ada obat yang dapat menyembuhkan Alzheimer, dan bagaimana jika obat ini juga dapat meningkatkan kecerdasan atau daya ingat manusia biasa? Selain menyembuhkan Alzheimer, jika bioteknologi dapat memberikan kemampuan yang ditingkatkan kepada semua manusia, dapatkah kita masih menyebut mereka Homo sapiens?
Dalam Bab 20, “Akhir Homo sapiens,” dari buku Sapiens karya Yuval Noah Harari, ia mengangkat kemungkinan bahwa bioteknologi dapat membawa pada akhir Homo sapiens. Rekayasa genetika dan bioteknologi tidak hanya mengubah umur manusia, fungsi fisiologis, dan sistem kekebalan tubuh, tetapi juga kapasitas intelektual dan emosional. Homo sapiens menggunakan teknologi ini untuk memanipulasi gen, menciptakan organisme baru, dan mengubah bentuk mereka sendiri. Jika manusia sendiri menginduksi perubahan yang beragam tersebut, termasuk manipulasi genetik, dapatkah manusia di masa depan benar-benar disebut Homo sapiens? Di abad ke-21, era ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju, rekayasa genetika akan terus berkembang tanpa henti demi kenyamanan dan kesehatan manusia. Dan mungkin, karena teknologi ini, karakteristik bawaan manusia yang unik secara bertahap akan menghilang, dengan manusia hasil rekayasa buatan akan menduduki bagian yang lebih besar di dunia. Jadi, apakah menurut Anda saat kepunahan juga akan datang untuk Homo sapiens? Mungkin kita sudah berjalan di jalan menuju 'akhir Homo sapiens'. Jika kita gagal menggunakan teknologi manipulasi genetik yang diberikan kepada kita dengan bijak, bukankah kita semakin mendekati akhir keberadaan Homo sapiens bahkan pada saat ini juga?