Tulisan blog ini mengkaji arus intelektual yang mengeksplorasi bagaimana perubahan revolusioner dalam astronomi Barat abad ke-16 berupaya untuk selaras dengan pemikiran tradisional Tiongkok.
Pada awal abad ke-16, teori heliosentris muncul di Barat sebagai alternatif dari model geosentris. Reformasi dalam astronomi yang dimulai pada titik ini melampaui sekadar perubahan ilmiah, mengarah pada transformasi yang menggulingkan metafisika melalui penyebaran empirisme dan pengembangan ilmu matematika. Seiring dengan penyebaran kosmologi Barat, berbagai reaksi terhadap sains Barat muncul di Timur, khususnya di Tiongkok. Para sarjana Tiongkok tidak hanya menerima kosmologi Barat; mereka secara aktif berupaya untuk mensintesisnya dengan pemikiran asli Tiongkok. Proses ini meningkatkan minat pada warisan intelektual mereka sendiri, yang mengarah pada upaya untuk mengakui keunggulan sains Barat sekaligus menegaskan kembali superioritas tradisi Tiongkok.
Nicolaus Copernicus, yang mewarisi tradisi matematika dalam menyederhanakan masalah kompleks, mencari cara yang mudah untuk menggambarkan gerakan benda langit. Ia berupaya menciptakan model sederhana untuk membuat perhitungan astronomi yang kompleks lebih mudah dipahami secara intuitif. Namun, ia kurang memperhatikan masalah metafisika yang mungkin ditimbulkan oleh pendekatan ini. 'Aristotle' dan 'Ptolemy' kuno menggambarkan alam semesta dengan Bumi yang tetap berada di pusatnya, tidak bergerak, sementara Bulan, Matahari, dan planet-planet lain berputar mengelilinginya. Bintang-bintang tetap yang melekat pada bola langit diyakini hanya berputar sebagai latar belakang dalam model ini. Namun, Nicolaus Copernicus mengusulkan model kosmik yang berbeda: menempatkan Matahari di pusat alam semesta, dengan planet-planet, termasuk Bumi, berputar mengelilinginya. Menurut teorinya, semakin jauh sebuah planet dari Matahari, semakin lama periode orbitnya; prinsip sederhana ini dapat menjelaskan gerakan benda langit yang kompleks. Hal ini dapat menjelaskan gerakan planet yang terlihat menggunakan jauh lebih sedikit lingkaran daripada sistem Ptolemy, kesederhanaan yang diakui sebagai suatu kebaikan di kalangan akademisi pada saat itu. Namun, banyak intelektual dan pemimpin agama yang menganut metafisika Aristoteles merasa sulit menerima teorinya. Mereka memandang teori Nicolaus Copernicus sebagai merendahkan manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah, dari pusat alam semesta menjadi sekadar penghuni planet kecil.
Pada akhir abad ke-16, Tycho Brahe mengakui keunggulan astronomi Nicolaus Copernicus sambil berusaha menghindari konflik dengan metafisika Aristoteles. Ia mengusulkan sebuah model yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta, dengan Bulan, Matahari, dan bintang-bintang tetap berputar mengelilinginya, sementara planet-planet luar berputar mengelilingi Matahari. Kompromi ini dapat dilihat sebagai upaya untuk merangkul ide-ide inovatif Nicolaus Copernicus sambil mempertahankan perspektif metafisika tradisional. Namun, Johannes Kepler, yang terpesona oleh Neoplatonisme—sebuah metafisika yang menjunjung tinggi keteraturan numerik alam semesta—merangkul astronomi Nicolaus Copernicus, yang menempatkan Matahari di pusat alam semesta untuk mengejar kesederhanaan. Sebagai seorang empiris, ia juga menggunakan data pengamatan astronomi Tycho Brahe yang tepat untuk menetapkan hukum-hukum yang mengatur gerak planet-planet yang mengorbit matahari. Hukum-hukum ini memberikan bukti baru tentang kesederhanaan alam semesta, membuat perspektif metafisika Aristoteles semakin tidak dapat dipertahankan.
Pada akhir abad ke-17, Isaac Newton berhasil membenarkan model heliosentris secara mekanis. Ia berhasil menyimpulkan hukum gerak planet Johannes Kepler dari hipotesis gravitasi universal. Menurut teori Isaac Newton, gravitasi universal adalah gaya yang menyebabkan dua massa saling menarik, dengan besarnya berbanding lurus dengan hasil perkalian massa keduanya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak di antara keduanya. Misalnya, dengan asumsi benda-benda langit, termasuk Bumi, memiliki kepadatan yang homogen atau berbentuk bola dan simetris, gaya gravitasi yang diberikan oleh benda tersebut pada titik massa eksternal mana pun dapat dijelaskan oleh semua elemen volume yang membentuk benda tersebut. Lebih lanjut, dapat dibuktikan bahwa gaya gravitasi antara Matahari, yang jauh lebih besar daripada Bumi, dan Bumi adalah sama.
Isaac Newton menerapkan prinsip ini, menggunakan nilai terukur untuk orbit Bulan dan gerakan jatuh apel untuk menunjukkan realitas gravitasi universal. Melalui ini, Isaac Newton menjelaskan keteraturan dan gerakan alam semesta dengan prinsip-prinsip matematika, sehingga ia mendapatkan reputasi sebagai pelopor revolusi ilmiah.
Ilmu pengetahuan Barat mulai diperkenalkan secara resmi ke Tiongkok sejak akhir abad ke-16. Status ilmu pengetahuan Barat menguat di Tiongkok ketika Dinasti Qing secara resmi mengadopsi kalender Chongzhen pada tahun 1644, yang menggabungkan model astronomi dan metode perhitungan Barat untuk meningkatkan sistem kalender. Kalender Chongzhen, yang secara bertahap mengadopsi teori astronomi Tycho Brahe dan Johannes Kepler untuk meningkatkan akurasi, menjadi terintegrasi erat ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tiongkok. Namun, para intelektual Tiongkok memandang ilmu pengetahuan Barat sebagai unsur yang mengganggu kecuali jika diintegrasikan dengan tepat dengan warisan intelektual Tiongkok, terlepas dari efisiensinya. Dengan latar belakang ini, para sarjana yang terpesona oleh ilmu pengetahuan Barat melakukan berbagai upaya untuk memecahkan masalah dengan menggabungkan ilmu pengetahuan Barat dengan tradisi Tiongkok secara tepat.
Pada abad ke-17, para cendekiawan terkemuka seperti Xiong Mingyu dan Fang Yizhi mempertahankan sikap kritis terhadap kosmologi yang tercatat dalam teks-teks Tiongkok kuno. Namun, berlandaskan prinsip-prinsip Neo-Konfusianisme, mereka mengusulkan teori-teori orisinal yang menafsirkan kembali sains Barat. Mereka menghormati pencapaian ilmiah Barat tetapi mencari cara untuk menyelaraskannya dengan pemikiran tradisional Tiongkok daripada sekadar menerimanya. Misalnya, meskipun pernyataan mereka bahwa Merkurius dan Venus mengorbit Matahari dipengaruhi oleh Tycho Brahe, mereka mempertanyakan teori-teori astronomi Barat mengenai ukuran Matahari. Mereka juga mengusulkan teori optik orisinal yang menghubungkan qi dan cahaya, berupaya mengintegrasikan filsafat alam tradisional Tiongkok dengan sains Barat.
Pada akhir abad ke-17, Mei Wending dan Wang Xichan, yang dipengaruhi oleh sains Barat, berupaya memahami prinsip-prinsip alam semesta melalui penalaran empiris dan perhitungan matematika. Meskipun mengakui keunggulan sains Barat, mereka berpendapat bahwa prinsip-prinsip intinya sudah terkandung dalam karya-karya klasik Tiongkok. Mereka mengabdikan diri untuk menafsirkan kembali teks-teks kuno untuk mendukung teori asal-usul sains Barat dari Tiongkok. 'Mei Wending' menghubungkan teori Barat tentang Bumi bulat dengan teks-teks kuno, menekankan keunggulan sains Tiongkok. Melalui ini, para sarjana Tiongkok yang dipengaruhi oleh sains Barat melanjutkan upaya mereka tidak hanya untuk menerima sains Barat, tetapi juga untuk menafsirkan dan mengembangkannya dalam tradisi intelektual Tiongkok.
Pendirian Mei Wending, yang berpusat pada pengintegrasian astronomi Barat melalui astronomi Tiongkok, menjadi posisi resmi Tiongkok mulai awal abad ke-18. Posisi ini secara langsung tercermin dalam Siku Quanshu, sebuah koleksi ensiklopedia yang mencakup pencapaian intelektual historis Tiongkok. Para editor ensiklopedia ini mengumpulkan dan memasukkan banyak teks astronomi dari zaman kuno hingga era mereka sendiri, menunjukkan kecenderungan untuk menafsirkan kembali kosmologi yang terkandung dalam teks-teks kuno dan menghubungkannya dengan sains modern. Tren ini berlanjut hingga pertengahan abad ke-19, dan selama proses penyebaran dan adopsi sains Barat, sebuah gerakan intelektual baru berkembang melalui integrasinya dengan tradisi intelektual Tiongkok.