Tulisan blog ini mengkaji bagaimana premi risiko—imbalan karena menerima risiko—mengubah pilihan investor dan komposisi portofolio, serta bagaimana premi tersebut mendefinisikan ulang keseimbangan antara profitabilitas dan stabilitas.
Dalam ilmu ekonomi, komposisi berbagai aset keuangan yang dimiliki oleh seseorang disebut portofolio. Setiap aset memiliki karakteristik unik terkait profitabilitas, risiko, dan likuiditas. Pemilihan portofolio tertentu oleh investor menandakan pertimbangan komprehensif terhadap karakteristik-karakteristik ini untuk menentukan bobot investasi bagi setiap aset. Oleh karena itu, investasi yang terdiversifikasi pada berbagai aset keuangan dapat diartikan sebagai hasil dari proses pemilihan portofolio.
Profitabilitas aset keuangan dinyatakan melalui tingkat pengembalian yang diharapkan, yaitu pengembalian yang diharapkan. Misalnya, anggaplah saham K Electronics saat ini diperdagangkan pada harga 100,000 won per lembar. Asumsikan ada sepertiga kemungkinan harga akan naik menjadi 150,000 won pada kuartal berikutnya dan dua pertiga kemungkinan harga akan turun menjadi 90,000 won. Jika harga saham naik menjadi 150,000 won, investor memperoleh pengembalian 50%; jika turun menjadi 90,000 won, investor mengalami kerugian 10%. Berdasarkan perhitungan ini, pengembalian yang diharapkan adalah 10% melalui proses (0.5 × 1/3) + (-0.1 × 2/3). Meskipun pengembalian yang diharapkan ini berfungsi sebagai indikator profitabilitas fundamental untuk saham tersebut, yang sebenarnya diperhatikan oleh investor adalah pengembalian setelah pajak, yang tidak termasuk pajak dari pengembalian yang diharapkan. Dalam kondisi yang sama, wajar jika aset dengan pengembalian setelah pajak yang lebih tinggi menarik permintaan yang lebih besar.
Risiko suatu aset berkaitan erat dengan volatilitas imbal hasilnya. Bahkan jika dua saham, A dan B, dengan harga saham yang identik, keduanya memiliki imbal hasil yang diharapkan sebesar 5%, jika saham B memiliki volatilitas yang lebih tinggi, aset tersebut dianggap lebih berisiko daripada saham A. Investor umumnya lebih menyukai aset yang lebih aman ketika kondisi lainnya sama, sehingga produk keuangan dengan risiko yang lebih rendah diperkirakan akan menghasilkan permintaan yang lebih besar. Namun, beberapa aset cenderung menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi seiring dengan peningkatan risiko. Imbal hasil tambahan yang dibayarkan kepada investor sebagai kompensasi atas penerimaan risiko ini disebut premi risiko.
Faktor ketiga yang memengaruhi pemilihan produk keuangan adalah likuiditas. Likuiditas mengacu pada kemudahan suatu aset dikonversi menjadi uang tunai tanpa biaya yang signifikan. Kemampuan untuk memperoleh kembali dana dengan cepat saat dibutuhkan merupakan pertimbangan penting bagi investor. Oleh karena itu, aset yang sangat likuid cenderung lebih disukai.
Pemilihan portofolio berkontribusi dalam memitigasi sebagian risiko yang timbul dari fluktuasi harga dengan memungkinkan investor untuk mendiversifikasi dana mereka ke berbagai aset keuangan. Namun, terdapat keterbatasan praktis dalam mengurangi risiko secara fundamental hanya melalui diversifikasi. Instrumen keuangan derivatif dirancang untuk mengatasi keterbatasan ini dan mengelola risiko secara lebih efisien. Derivatif dapat dianggap sebagai mekanisme institusional yang memungkinkan mereka yang ingin menghindari kerugian modal akibat fluktuasi harga aset dan mereka yang bersedia menanggung risiko tersebut dengan imbalan keuntungan modal untuk memperdagangkan risiko itu sendiri.
Opsi adalah salah satu produk keuangan derivatif yang representatif. Kontrak opsi adalah perjanjian yang memberikan hak untuk membeli atau menjual aset acuan tertentu pada harga yang telah ditentukan sebelumnya, pada titik waktu tertentu di masa mendatang atau selama periode tertentu. Pembeli opsi dapat menggunakan hak ini jika pembelian atau penjualan aset acuan tersebut menguntungkan, atau kehilangan hak tersebut jika merugikan. Misalnya, seseorang membayar premi opsi sebesar 500,000 won dan menandatangani kontrak opsi yang memberikan hak untuk membeli hingga 100 lembar saham Perusahaan A dengan harga 100,000 won per lembar dalam enam bulan. Jika harga saham turun di bawah 100,000 won enam bulan kemudian, pemegang opsi tidak berkewajiban untuk membeli saham tersebut pada harga yang telah ditentukan sebelumnya dan kehilangan hak tersebut. Kerugian yang ditanggung dalam kasus ini adalah 500,000 won yang dibayarkan untuk opsi tersebut. Sebaliknya, jika harga saham melebihi 100,000 won setelah enam bulan, pembeli opsi mendapat untung dari selisihnya. Hal ini karena mereka dapat membeli dengan harga 100,000 won per saham dan kemudian menjualnya dengan harga pasar yang lebih tinggi. Namun, karena 500,000 won sudah dibayarkan saat membeli opsi, harga saham harus melebihi 105,000 won per saham agar keuntungan aktual dapat terwujud.
Di antara opsi, kontrak yang memberikan hak untuk membeli aset acuan pada harga yang telah ditentukan pada titik waktu tertentu atau selama periode tertentu disebut opsi beli. Hari terakhir hak ini dapat dilaksanakan disebut tanggal kedaluwarsa, dan harga beli yang telah ditentukan disebut harga kesepakatan. Pemegang opsi beli berpeluang mendapatkan lebih banyak keuntungan seiring kenaikan harga aset acuan, sehingga investor yang mengantisipasi kenaikan harga membeli opsi beli. Sebaliknya, kontrak yang memberikan hak untuk menjual aset acuan pada harga yang telah ditentukan pada titik waktu tertentu atau dalam periode tertentu disebut opsi jual. Pemegang opsi jual berpeluang mendapatkan lebih banyak keuntungan seiring penurunan harga aset acuan secara signifikan di masa mendatang. Hal ini karena mereka dapat membeli aset acuan pada harga pasar yang lebih rendah dan kemudian menjualnya kembali pada harga kesepakatan yang lebih tinggi yang telah ditentukan.
Dengan demikian, karakteristik dan risiko aset keuangan, beserta perkembangan berbagai teknik keuangan untuk mengelolanya, telah menjadi elemen penting dalam pasar keuangan modern. Ketika sistem dan produk ini dimanfaatkan dengan tepat, investor dapat mengejar imbal hasil sekaligus mengendalikan risiko, dan pasar keuangan dapat beroperasi dalam struktur yang lebih stabil.