Tulisan blog ini mengkaji pandangan dunia alami dalam mitos penciptaan Korea dan mengeksplorasi bagaimana pandangan tersebut selaras dengan teori evolusi yang berkembang di Barat. Tulisan ini juga mengkaji bagaimana pandangan dunia dalam mitos-mitos awal tersebut mengandaikan perubahan dan harmoni yang bertahap.
Teori evolusi, yang dikembangkan oleh Charles Robert Darwin dan banyak ilmuwan, menjelaskan keragaman dan kompleksitas bentuk kehidupan yang ada. Prinsip intinya adalah bahwa organisme hidup terus-menerus mengalami variasi; di antaranya, setiap variasi yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya, sekecil apa pun, terakumulasi dari generasi ke generasi. Dengan waktu yang cukup, akumulasi ini menghasilkan perubahan yang nyata. Kekuatan pendorong terpenting di balik evolusi adalah seleksi alam, sebuah konsep yang pertama kali diidentifikasi oleh Darwin dan membentuk inti evolusi Darwin. Organisme menghadapi persaingan untuk bertahan hidup dalam lingkungannya. Individu yang tidak dapat bereproduksi secara alami tereliminasi, sementara mereka yang memiliki sifat-sifat yang menguntungkan untuk bertahan hidup dan bereproduksi menyebarkan sifat-sifat mereka ke generasi berikutnya dan ke seluruh ekosistem, seolah-olah diseleksi oleh alam. Seleksi alam bukanlah hipotesis atau dugaan, melainkan fakta yang tak terbantahkan. Hal ini dapat dengan mudah dibuktikan secara kuantitatif melalui model matematika, dan banyak kasus yang diamati dalam biologi evolusi modern membuktikan hal ini. Dengan demikian, teori evolusi, yang menghadirkan paradigma baru yang tak terbayangkan oleh para ilmuwan sebelumnya, memiliki dampak sosial yang mendalam di berbagai bidang. Teori evolusi tidak hanya memengaruhi disiplin ilmu terkait seperti sistematika, biologi evolusi, dan genetika, tetapi juga mendorong pemikiran filosofis dan gagasan ilmu sosial baru. Teori ini juga berbenturan dengan sistem nilai yang ada, yang secara historis menimbulkan konflik signifikan, terutama dengan kreasionisme Kristen. Dengan demikian, pemikiran evolusi, yang secara fundamental mengubah konsep-konsep yang ada, memberikan pengaruh yang mendalam tidak hanya pada sains Barat tetapi juga pada masyarakat dan budaya secara keseluruhan.
Jadi, apakah pemikiran evolusi ini benar-benar baru bagi orang Timur, terutama orang Korea? Untuk mengkaji hal ini, pertama-tama kita akan menelusuri definisi dan makna mitos, lalu mengkaji pandangan tentang alam yang disajikan dalam mitos penciptaan Korea dan pemikiran evolusi yang terkandung di dalamnya.
Mitologi adalah narasi pandangan dunia primordial yang ditransmisikan pada tingkat etnis. Pandangan dunia primordial ini mengandung dua makna. Pertama, dunia yang digambarkan dalam mitos berkaitan dengan keadaan awal waktu, sementara yang kedua, kesadaran orang-orang yang menceritakan dunia itu sendiri bersifat primordial. Objek kognisi adalah dunia primordial, dan perspektif subjek yang mengenali juga didasarkan pada pengenalan dunia primordial. Oleh karena itu, dunia primordial sebagai entitas objektif dan pandangan dunia primordial sebagai sistem kognitif subjek saling terkait erat. Akibatnya, mitos bukanlah cerita yang menafsirkan ulang dunia primordial dari perspektif kita saat ini, melainkan narasi yang digambarkan menurut sistem kognitif dan pandangan dunia yang dianut oleh orang-orang yang hidup di dunia primordial tersebut.
Mitos tidak menggambarkan realitas masa kini, juga tidak berbicara dengan suara kita saat ini. Mitos dengan setia menyampaikan suara para leluhur yang telah ada sejak lama; baik mata yang memandang dunia maupun mulut yang membicarakannya bukanlah milik kita. Oleh karena itu, meskipun mitos menceritakan dunia yang berada di luar jangkauan temporal dan spasial kita, fakta bahwa mitos telah disampaikan melalui resonansi emosional secara alami menjadikan mitos misterius dan aneh, sehingga membuat mereka yang mewariskannya menganggapnya sakral. Akibatnya, mitos hanya menyisakan sedikit ruang bagi intervensi aktif oleh pendongeng atau kesadaran penonton, dan tidak ada perselisihan yang muncul selama penyampaiannya. Hal ini karena dunia yang digambarkan mitos tidak dapat diverifikasi dan memiliki kesakralan yang tak terbantahkan. Berdasarkan hakikat hakiki ini, kita menerima fakta-fakta yang dikisahkan dalam mitos sebagai 'realitas transenden dari awal mula primordial' secara spasial dan sebagai 'sejarah asal-usul sakral' secara temporal.
Sebagai sejarah awal mula yang suci, mitos seringkali menempati posisi terdepan dalam narasi sejarah. Karena persepsi bahwa realitas transenden merupakan fakta suci, mitos seringkali menjadi fondasi kitab suci agama. Contoh utamanya adalah Kejadian 1 dalam Perjanjian Lama, yang membuka Alkitab dan terdiri dari mitos penciptaan. Dengan menggambarkan proses Allah menciptakan langit dan bumi di awal kitab tersebut, Alkitab mendefinisikan asal usul dan hakikat alam sebagai tindakan penciptaan ilahi. Karena langit dan bumi merupakan fondasi dan hakikat alam, bagaimana sebuah mitos menjelaskan asal usul mereka mengungkapkan pandangan suatu bangsa tentang alam dan pemahaman mereka tentang kosmos.
Namun, dunia yang digambarkan oleh mitos adalah realitas transenden yang melampaui konfirmasi visual, berurusan dengan fakta-fakta primordial yang telah lama lenyap. Namun, alasan kita masih dapat berempati dan menyampaikan mitos saat ini adalah karena mitos berhasil menciptakan penggambaran yang memikat secara sastra. Meskipun berhadapan dengan dunia yang tak terverifikasi, mitos terstruktur secara sistematis dalam kerangka logis yang konsisten dan diungkapkan dengan kejelasan yang nyata. Hal ini memungkinkan mitos berfungsi sebagai narasi yang mengandung sistem ideologis yang koheren. Akibatnya, mitos sekaligus merupakan representasi sastra sekaligus pernyataan sejarah, kitab suci agama, dan sistem filsafat. Sifat berlapis-lapis inilah yang menjadikan mitos sebagai subjek kajian di berbagai disiplin ilmu akademik.
Tulisan blog ini tidak berfokus pada karya-karya mitos sebagai bentuk sastra atau sumber-sumber mitos sebagai fakta sejarah. Tulisan ini juga tidak membahas kitab suci mitos yang mengkodifikasi doktrin agama-agama tertentu. Di sini, kami mengkaji alam semesta dan dunia yang terkandung dalam mitos—yaitu, pandangan dunia masyarakat kita tentang alam. Mitos yang mengandung kisah-kisah primordial mau tidak mau berbicara tentang penciptaan alam semesta dan prinsip-prinsip yang mendasarinya. Tanpa membahas hal ini, sebuah mitos tidak dapat memenuhi fungsinya, dan sejarah dunia itu sendiri tidak dapat maju selangkah pun. Namun, ini tidak berarti mitos menggambarkan alam semesta dan dunia secara asal-asalan. Mitos dibangun berdasarkan pandangan dunia tertentu yang dipahami dan disetujui oleh komunitas etnis. Tanpa ini, kisah-kisah primordial tidak mungkin dapat diwariskan hingga saat ini. Pandangan dunia yang dibahas di sini kurang berfokus pada struktur kosmik atau persepsi spasial, melainkan lebih pada bagaimana alam dipersepsikan sebagai suatu entitas—yaitu, pandangan masyarakat Korea tentang alam.
Nyanyian perdukunan yang dibawakan selama ritual mencakup mitos penciptaan yang dikenal sebagai 'Cheonjiwangbonpuri' (Penciptaan Langit dan Bumi) dan mitos penciptaan yang disebut 'Changse-ga' (Nyanyian Penciptaan). Meskipun kedua mitos tersebut memiliki kesamaan dalam menceritakan bagaimana dunia purba diciptakan, keduanya menunjukkan beberapa perbedaan yang signifikan. Mitos penciptaan tentang terbukanya langit dan bumi menceritakan kisah langit dan bumi yang terbuka secara spontan sesuai dengan kekuatan dan prinsip masing-masing. Sebaliknya, mitos penciptaan tentang terbentuknya dunia menampilkan sosok ilahi yang muncul, memisahkan langit dan bumi dengan kekuatan transenden, dan menciptakan tatanan untuk mengatur benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang secara harmonis.
Oleh karena itu, mitos penciptaan merupakan kategori yang berbeda dari mitos penciptaan dan dapat dipandang serupa dengan mitos penciptaan Kristen. Hal ini karena mitos-mitos tersebut memperkenalkan sosok ilahi yang menciptakan dunia, yang maksudnya membentuk segala sesuatu ke dalam bentuknya yang sekarang dan memastikan pergerakan alami matahari, bulan, dan bintang. Dalam hal ini, klaim bahwa Korea tidak memiliki mitos penciptaan tidaklah berdasar. Sebaliknya, kita memiliki warisan mitologi yang kaya yang mencakup mitos Gaebyeok dan mitos penciptaan.
Mitos Kejadian terbagi menjadi dua bagian: bagian pertama menggambarkan kelahiran Maitreya saat langit dan bumi terbuka, yang memisahkan langit dan bumi, mengatur matahari, bulan, dan bintang-bintang, serta mencari asal-usul air dan api; bagian kedua menceritakan bagaimana, setelah Maitreya menciptakan manusia, Shakyamuni muncul dan dengan licik menguasai dunia manusia, yang menyebabkan maraknya dosa dan kejahatan. Di sini, kita fokus pada bagian pertama sebagai inti dari mitos penciptaan. Pembukaan Mitos Kejadian adalah sebagai berikut:
“Ketika langit dan bumi tercipta,
Maitreya lahir.
Langit dan bumi saling menempel,
tidak dapat dipisahkan.
Surga menggembung seperti tutup panci,
sementara bumi berdiri di atas empat pilar tembaga.
Pada saat itu, ada dua matahari dan dua bulan.
Satu bulan terpisah membentuk Biduk dan Biduk Selatan,
dan satu matahari dipisahkan untuk membentuk Bintang Besar.”
Dasar pengklasifikasian Kidung Agung sebagai 'mitos penciptaan' alih-alih 'kisah penciptaan' terlihat jelas dalam beberapa perbedaan. Dalam mitos penciptaan Kristen, Tuhan adalah agen penciptaan, yang menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu di alam semesta dari ketiadaan menjadi ada. Namun, dalam mitos Kejadian, Maitreya berperan memisahkan langit dan bumi yang sudah ada dan menetapkan tatanan dunia. Hal ini mempertahankan logika mitos Gaebyeok, yaitu bahwa langit dan bumi telah terbuka secara spontan, dan Mireuk-nim lebih dekat dalam mengorganisir langit dan bumi yang terbuka tersebut secara harmonis.
Lebih lanjut, entitas-entitas bercahaya seperti matahari dan bulan hanya diatur untuk menemukan tempatnya yang tepat dan beroperasi secara harmonis setelah langit dan bumi dipisahkan terlebih dahulu. Yang penting bukanlah urutan pembangunan dunia, melainkan perbedaan metode yang digunakan. Perbedaan metode inilah yang menyebabkan salah satu mitos menjadi mitos penciptaan, sementara yang lain tidak dapat dipandang demikian. Hal ini karena Maitreya hanya menyesuaikan langit, bumi, dan benda-benda langit yang telah ada sebelumnya agar sesuai dengan kebutuhan dunia manusia; ia tidak menciptakannya. Karena alasan ini, mitos penciptaan seharusnya disebut 'mitos penciptaan', bukan 'mitos penciptaan'.
Mitos-mitos pembangunan dunia memiliki kesamaan dengan mitos-mitos penciptaan, yaitu munculnya dewa yang membentuk dunia. Namun demikian, perbedaan antara keduanya terlihat jelas dalam tiga aspek. Pertama, agen yang membentuk dunia berbeda. Jika agen dalam mitos penciptaan adalah Tuhan, agen dalam mitos pembangunan dunia adalah Maitreya. Tuhan adalah Pencipta yang membentuk langit dan bumi, sedangkan Maitreya adalah Pendiri dan Penyelaras yang secara harmonis mengorganisir dunia dan menetapkan tatanannya. Kedua, metode pembangunan dunia berbeda. Dalam mitos penciptaan, firman Tuhan merupakan tindakan penciptaan itu sendiri, sedangkan dalam mitos-mitos genesis, tangan Maitreya menjadi sarana untuk menyesuaikan dan menata dunia. Ketiga, hakikat penciptaan berbeda. Dalam mitos penciptaan langit dan bumi, Tuhan melakukan penciptaan absolut, menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Sebaliknya, Maitreya dalam mitos penciptaan membentuk dunia dengan menemukan apa yang sudah ada dan merekonstruksi serta mentransformasikannya dengan tepat. Menyesuaikan dan mengubah apa yang sudah ada tidak dapat disebut penciptaan; justru lebih dekat dengan penciptaan ulang atau penyesuaian.
Jika mitos penciptaan melahirkan sesuatu dari ketiadaan, mitos pembangunan dunia melahirkan sesuatu dari sesuatu. Meskipun keduanya menjelaskan penciptaan dunia, dalam mitos penciptaan, bahkan langit dan bumi pun lahir dari awal mula oleh firman Tuhan. Dalam mitos pembangunan dunia, Maitreya menopang langit dan bumi yang sudah ada dengan pilar-pilar untuk mencegahnya runtuh, dan demikian pula, matahari dan bulan hanyalah entitas yang ada yang dikonfigurasi ulang sesuai kebutuhan. Jika penciptaan yang pertama merupakan penciptaan absolut, membentuk sesuatu dari ketiadaan, penciptaan yang kedua berkaitan dengan pekerjaan perombakan untuk menyusun kembali dunia yang belum selesai secara harmonis.
Berbeda dengan baris pembuka mitos penciptaan, "Pada mulanya, Tuhan menciptakan langit dan bumi," mitos penciptaan menyatakan, "Ketika langit dan bumi tercipta, Maitreya lahir." Artinya, langit dan bumi sudah ada sebelum Maitreya. Kelahiran Maitreya tidak menyebabkan langit dan bumi tercipta, dan Maitreya juga tidak menciptakan langit dan bumi. Karena alasan ini, mitos Kejadian tidak dapat disebut mitos penciptaan. Maitreya hanya mengorganisasikan keadaan langit dan bumi yang kacau menjadi dunia yang teratur. Oleh karena itu, perannya bukanlah penciptaan, melainkan Kejadian—yaitu, peran sebagai pencipta Kejadian yang menyelaraskan dunia secara harmonis.
Perbedaan antara Pencipta dan Penata Dunia terletak pada peran mereka, meskipun keduanya merupakan dewa transenden. Sang Pencipta adalah dewa absolut yang menciptakan alam semesta sempurna dari ketiadaan, sementara Penata Dunia lebih dekat dengan penyelaras yang mengubah alam semesta yang tidak selaras menjadi alam yang harmonis. Alasan pembentukan dewa penata dunia terletak pada perbedaan pandangan tentang alam. Hal ini bermula dari pengakuan bahwa alam tidak diberikan dalam bentuk yang sempurna sejak awal, melainkan ada sebagaimana adanya sekarang melalui perubahan bertahap dari keadaan yang tidak sempurna. Pengakuan ini menyiratkan harapan bahwa dunia saat ini juga tidak sempurna dan bahwa dunia yang lebih diinginkan dan lengkap akan datang di masa depan. Pandangan tentang alam ini sebenarnya memiliki struktur yang mirip dengan pandangan dunia evolusioner.
Mitologi bukan sekadar kisah kuno. Mitologi mewujudkan pandangan dunia, filsafat alam, dan kosmologi masyarakat kuno. Melalui mitologi, kita dapat memahami kesadaran universal dan primordial umat manusia yang bertahan hingga saat ini. Mitos penciptaan Kristen menyatakan bahwa segala sesuatu muncul dari ketiadaan melalui firman Tuhan. Pada hakikatnya, ini merupakan narasi penciptaan yang absolut. Namun, dalam mitos penciptaan Korea, Mireuk-nim hanya merestrukturisasi apa yang sudah ada. Ini merepresentasikan aktivitas penciptaan atau penyesuaian yang membimbing dunia yang sudah ada dan tidak sempurna menuju keadaan yang lebih baik. Mitos penciptaan Kristen memandang alam sebagai sesuatu yang sempurna sejak awal, dengan alam masa kini identik dengan alam masa lalu. Artinya, mitos ini berpandangan bahwa alam pada dasarnya tidak berubah setelah penciptaan. Sudut pandang ini tidak memasukkan pemikiran evolusioner. Sebaliknya, mitos penciptaan Korea memandang alam telah berubah secara bertahap dari keadaan tidak sempurna menjadi seperti sekarang ini. Ini adalah pengakuan bahwa alam bertransformasi seiring waktu. Ini adalah cara berpikir yang didasarkan pada evolusi bertahap, yang secara fundamental selaras dengan elemen-elemen inti perspektif evolusioner.
Pola pikir evolusioner yang muncul pada abad ke-19 dan berdampak besar pada pemikiran dan sains Barat secara keseluruhan, sebenarnya telah tercermin sejak lama dalam mitos-mitos penciptaan Korea. Jauh sebelum Barat, mitologi Korea memandang alam bukan sebagai 'ciptaan yang sempurna sejak awal,' melainkan sebagai 'perubahan progresif dari keadaan yang tidak sempurna untuk mencapai harmoni.' Pandangan tentang alam ini berkaitan langsung dengan pemikiran evolusioner, menunjukkan bahwa pandangan dunia yang didasarkan pada perubahan dan harmoni telah tertanam kuat dalam mitologi Korea.