Bagaimana penindasan sifat batin berubah menjadi dominasi manusia oleh manusia?

Tulisan blog ini menelaah bagaimana proses akal budi yang menekan sifat batin berkembang menjadi struktur dominasi antara manusia, menganalisis mekanisme penindasan yang diciptakan oleh akal budi instrumental.

 

Dalam masyarakat modern yang tercerahkan, tujuan tertinggi yang ditetapkan oleh akal budi adalah 'pelestarian diri'. Akibatnya, alam direduksi menjadi materi tanpa tujuan dan sarana untuk pelestarian diri. Manusia, yang telah lama tunduk pada dominasi alam, kini berada dalam posisi untuk mendominasi alam. Namun, dalam proses ini, akal budi itu sendiri menjadi terinstrumentalisasi, menyebabkan diri pribadi yang konkret lenyap, hanya menyisakan diri abstrak yang telah kehilangan kapasitas kritisnya. Horkheimer mendiagnosis bahwa kemenangan manusia yang sedang berlangsung ini tidak membebaskan manusia dari alam, melainkan berpuncak pada dominasi manusia oleh manusia. Untuk mengonseptualisasikan masalah ini, ia pertama-tama membedakan antara hakikat batin dan hakikat lahiriah, kemudian membagi hakikat lahiriah menjadi hakikat manusia dan hakikat non-manusia untuk penjelasannya.
Proposisi Horkheimer—bahwa dominasi manusia atas alam mengarah pada dominasi manusia atas manusia—dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, dominasi manusia atas alam eksternal niscaya memerlukan penekanan terhadap alam batin. Untuk menang dalam perjuangan melawan alam eksternal, manusia harus menginternalisasikan aturan akal budi instrumental, dan dalam proses ini, mereka mau tidak mau menekan hakikat batin mereka sendiri. Sebagaimana alam diperlakukan seperti mesin, manusia pun memperlakukan diri mereka sendiri sebagai mesin yang dioperasikan oleh akal budi instrumental. Diri, yang dipersenjatai dengan akal budi instrumental, menekan hakikat batinnya sendiri. Dan mereka yang mencapai kesuksesan melalui penekanan menyeluruh terhadap hakikat batin mereka ini mendapati diri mereka berada dalam posisi untuk mendominasi mereka yang tidak berhasil.
Sementara dominasi kodrat batin oleh diri abstrak memperkuat struktur dominasi yang kuat atas yang lemah, yang lebih mendasar, dapat dilihat bahwa struktur dominasi yang sudah ada di antara manusia memaksa diri untuk mendominasi kodrat batinnya. Alasan manusia dapat dengan kasar menyerang dan menekan bahkan kodrat batin mereka demi mempertahankan diri dan meraih kesuksesan adalah karena merupakan perjuangan yang tragis untuk melepaskan diri dari pengalaman dieksploitasi oleh seorang dominator yang kejam. Dengan demikian, penindasan manusia terhadap kodrat batin dan lahiriah dapat dipahami bukan sebagai akibat dari sifat-sifat bawaan manusia, melainkan sebagai konsekuensi yang muncul dari hubungan antarmanusia.
Menurut Horkheimer, semakin manusia menekan kodrat batin mereka untuk mendominasi kodrat lahiriah, semakin mereka memupuk 'rasa dendam' terhadap akal dan ego, agen-agen penindasan ini. Khususnya, sebagian besar massa, yang telah menjadi korban penindasan ganda ini, diliputi oleh dendam yang mendalam. Massa menanggung tekanan ganda: di satu sisi, mereka harus menekan impuls alami mereka sendiri, dan di sisi lain, mereka didominasi oleh mereka yang lebih berhasil mengendalikan kodrat batin mereka. Dendam yang dipendam kodrat batin massa tertindas terhadap akal instrumental, agen penindasan, membentuk potensi pemberontakan. Hal ini karena dendam umumnya cenderung berkembang menjadi keinginan untuk menghancurkan, alih-alih menghilangkan penyebabnya. Seseorang yang didominasi oleh dendam memicu kerusuhan dalam bentuk menyerang dan menghancurkan orang lain, sama seperti mereka menekan kodrat batin mereka sendiri. Horkheimer menyebut fenomena ini sebagai 'kerusuhan alamiah'. Arah pemberontakan alamiah tidak ditentukan sebelumnya. Serangan destruktif dapat menargetkan orang terdekat atau orang pertama yang ditemui. Objek penghancuran selalu dapat diganti, dan korbannya sering kali adalah mereka yang lemah secara sosial atau kaum minoritas.
Horkheimer mencatat di sini bahwa fasisme modern mengeksploitasi potensi pemberontakan alami yang dipendam massa untuk semakin mengokohkan kekuasaannya sendiri. Menurut analisisnya, fasisme modern tidak berhenti pada penindasan, baik dari dalam maupun dari luar; fasisme modern memanfaatkan potensi pemberontakan alami dengan cara-cara yang diperlukan untuk mempertahankan sistem, sehingga mengeksploitasi massa secara lebih menyeluruh. Misalnya, Nazi menyalurkan kebencian massa, yang telah menjadi korban akal budi instrumental, terhadap akal budi itu sendiri ke dalam pemberontakan alami yang ditujukan kepada kaum Yahudi. Namun, pemberontakan alami ini gagal membebaskan alam yang tertindas; sebaliknya, justru berkontribusi pada pelestarian penindasan. Pemberontakan barbar manusia alami terhadap totalitas akal budi instrumental tampak secara dangkal merendahkan akal budi dan memuja alam sebagai kekuatan vital murni, tetapi pada kenyataannya, hal itu semakin mempercepat instrumentalisasi akal budi dan mengembangkan alam batin menjadi agen kekerasan brutal.
Dalam konteks ini, Horkheimer berpendapat bahwa pemberontakan alamiah yang anti-rasional tidak dapat mengatasi dominasi akal budi instrumental. Hal ini karena pemberontakan yang menolak akal budi tidak membebaskan alam; pemberontakan tersebut hanya berfungsi untuk membelenggu alam lagi. Untuk melepaskan diri dari belenggu ini, yang dibutuhkan bukanlah pemberontakan alamiah yang irasional, melainkan akal budi—yang secara lahiriah tampak sebagai antitesis alam—pertama-tama harus, melalui pemikiran kritis, menyadari bahwa hubungan antara manusia dan alam pada dasarnya bersumber dari hubungan antara manusia itu sendiri. Horkheimer menekankan bahwa hanya ketika akal budi kritis ini dipulihkan, kemungkinan untuk membebaskan alam dan manusia dapat dibuka kembali.

 

Tentang Penulis

Penulis

Saya seorang "Detektif Kucing". Saya membantu menyatukan kembali kucing-kucing yang hilang dengan keluarga mereka.
Saya menyegarkan diri dengan secangkir café latte, menikmati jalan-jalan dan traveling, serta mengembangkan pemikiran saya melalui tulisan. Dengan mengamati dunia secara saksama dan mengikuti keingintahuan intelektual saya sebagai penulis blog, saya berharap kata-kata saya dapat membantu dan menghibur orang lain.