Bagaimana ilmu pengetahuan normal mempersiapkan revolusi ilmiah selama pergeseran paradigma?

Tulisan blog ini menelusuri signifikansi struktural ilmu pengetahuan normal, dengan meneliti bagaimana penemuan-penemuan bertahap yang terakumulasi dalam suatu paradigma menjadi fondasi bagi revolusi ilmiah—ketimbang ilmu pengetahuan normal sekadar menjadi periode stagnasi.

 

Untuk menjelaskan struktur revolusi ilmiah, Kuhn memperkenalkan istilah 'paradigma'. Paradigma mengacu pada teori yang diterima secara luas dan ortodoks di antara berbagai teori yang ada pada era dan masyarakat tertentu. Bagi Kuhn, revolusi ilmiah terjadi ketika satu paradigma bergeser ke paradigma berikutnya. Contoh utamanya adalah pergeseran dari teori gerak Aristoteles ke mekanika Newton. Teori Aristoteles telah lama dianggap sebagai penjelasan terbaik untuk fenomena fisika dalam masyarakat tersebut. Namun, seiring waktu, fenomena fisika tertentu mulai muncul yang tidak dapat dijelaskan oleh teori ini, yang menyebabkan krisis dalam teori yang ada. Dalam konteks ini, mekanika Newton muncul, yang mampu menjelaskan bahkan fenomena-fenomena ini. Teori baru ini menggantikan teori gerak Aristoteles dan memantapkan dirinya sebagai paradigma sosial baru. Dengan demikian, struktur revolusi ilmiah terdiri dari serangkaian proses: 'munculnya paradigma – krisis paradigma – munculnya paradigma baru – penggantian paradigma'. Lebih lanjut, menurut Kuhn, setelah suatu paradigma diterima sepenuhnya oleh masyarakat dan akademisi, periode sains normal dimulai. Periode sains normal adalah masa ketika aktivitas ilmiah berlangsung dalam kerangka paradigma tertentu yang telah mapan. Kuhn memandang periode sains normal sebagai tahap esensial dalam perkembangan ilmiah, namun ia juga mencatat dalam karyanya bahwa "periode sains normal adalah periode di mana perkembangan ilmiah stagnan." Setelah mencermati gagasan Kuhn, penulis menyimpulkan bahwa istilah "stagnasi" yang digunakan untuk menggambarkan periode sains normal dapat diinterpretasikan dalam dua cara: sains pada dasarnya tidak mengalami kemajuan, atau kemajuan ilmiah selama periode ini berlangsung secara bertahap, alih-alih seradikal pergeseran paradigma. Oleh karena itu, esai ini akan mengkaji alasan mengapa kedua perspektif ini valid, kemudian mengeksplorasi bagaimana konsep revolusi ilmiah Kuhn dapat dijelaskan dengan paling jelas.
Perspektif pertama terhadap pernyataan "perkembangan ilmiah stagnan" selama periode sains normal menafsirkannya sebagai tidak adanya kemajuan ilmiah substantif. Kuhn menggambarkan periode sains normal hanya sebagai tahap pemecahan teka-teki. Menelaah berbagai perangkat dan hukum eksperimental yang dikembangkan dalam paradigma skala besar yang mapan—seperti teori astronomi modern, teori medan elektromagnetik, dan mekanika Newton—mengungkapkan ruang lingkup penerapan perspektif ini. Misalnya, gerak benda langit dijelaskan dalam paradigma teori astronomi kontemporer. Oleh karena itu, para ilmuwan berupaya menata ulang perangkat eksperimental selama observasi agar sesuai dengan paradigma atau menyesuaikan hukum agar tepat berada dalam struktur paradigma. Bahkan hukum yang ditemukan oleh Boyle—bahwa "pada suhu konstan, volume gas berbanding terbalik dengan tekanannya"—dapat dilihat hanya sebagai perancangan perangkat eksperimental dalam paradigma gerak molekul gas dan kemudian sekadar menginterpretasikan hasilnya. Dengan mensintesis contoh-contoh ini, aktivitas ilmiah selama periode sains normal dapat dipahami sebagai proses penguatan paradigma yang sudah ada dan pengorganisasian strukturnya secara cermat. Ia mungkin muncul sebagai pengulangan penafsiran sederhana yang menyingkapkan apa yang tersirat secara inheren dalam paradigma tersebut.
Sebaliknya, perspektif lain tentang gagasan bahwa "kemajuan ilmiah mengalami stagnasi" selama periode sains normal adalah bahwa perkembangan ilmiah, meskipun tidak terjadi seradikal pergeseran paradigma, terus berkembang secara bertahap. Contoh representatif yang mendukung perspektif ini adalah transisi dari model geosentris Ptolemeus ke model heliosentris Copernicus. Model geosentris Ptolemeus, yang menyatakan bahwa benda-benda langit berputar mengelilingi Bumi, menjadi paradigma dominan dalam astronomi selama kurang lebih seribu tahun, dari tahun 200-an hingga 1400-an Masehi. Namun, selama periode sains normal, seiring dengan terakumulasinya berbagai penelitian yang menggunakan paradigma tersebut sebagai standar, fakta-fakta baru mulai dilaporkan yang sulit dijelaskan dalam paradigma yang ada. Ini termasuk pengamatan Galileo terhadap bulan-bulan Jupiter, fase-fase Venus di luar bentuk sabit, dan paralaks tahunan bintang-bintang. Seiring dengan meningkatnya temuan penelitian tersebut, paradigma geosentris secara bertahap menurun, yang pada akhirnya mengarah pada pergeseran paradigma menuju model heliosentris Copernicus. Contoh-contoh ini dengan jelas menunjukkan bahwa aktivitas ilmiah selama periode sains normal sama sekali tidak sia-sia. Sebaliknya, aktivitas tersebut mengubah struktur sains melalui perkembangan bertahap, dan hasil-hasil yang terakumulasi membentuk fondasi bagi perubahan radikal—pergeseran paradigma.
Jadi, dari perspektif apa pernyataan Kuhn tentang stagnasi kemajuan ilmiah seharusnya dipahami untuk menafsirkan struktur revolusi ilmiahnya dengan paling jelas? Alih-alih hanya memilih satu dari dua perspektif, saya yakin kita seharusnya menafsirkannya dengan berkompromi di antara keduanya, tergantung pada situasinya. Artinya, konsep kemajuan ilmiah harus dipahami secara berbeda sesuai dengan keadaan dan sifat fakta yang spesifik. Misalnya, anggaplah dua hukum kuantitatif baru muncul dalam satu paradigma. Jika salah satu hukum ini mendukung paradigma yang ada, hal ini dapat ditafsirkan hanya sebagai konfirmasi fakta yang sudah tersirat dalam paradigma tersebut, sehingga bukan merupakan kemajuan ilmiah. Sebaliknya, jika hukum yang lain menunjukkan kontradiksi dalam paradigma atau menimbulkan potensi keberatan, hal itu dapat dianggap sebagai teori yang merusak paradigma tersebut. Jika hukum tersebut tidak dapat dijelaskan dalam kerangka paradigma yang ada, paradigma tersebut akan terpukul dan menghadapi krisis. Seiring dengan terakumulasinya teori dan bukti jenis ini, tekanan pada paradigma semakin besar, yang pada akhirnya menciptakan kondisi untuk pergeseran dari paradigma lama ke paradigma baru. Dengan kata lain, munculnya teori-teori yang mendobrak paradigma dapat diartikan sebagai 'perkembangan bertahap' dalam kurun waktu ilmu pengetahuan normal, dan perkembangan bertahap ini pada akhirnya terhubung hingga mengarah pada perkembangan radikal dalam bentuk pergeseran paradigma.
Sebagaimana diuraikan di atas, penulis memandang pernyataan Kuhn tentang "stagnasi kemajuan ilmiah" terbuka untuk dua interpretasi yang berbeda: pertama, bahwa kemajuan ilmiah tidak terjadi; dan kedua, bahwa kemajuan ilmiah terakumulasi secara bertahap, meskipun tidak seradikal pergeseran paradigma. Selanjutnya, penulis mempertimbangkan bagaimana memahami konsep kemajuan ilmiah yang dikemukakan oleh Kuhn dengan cara yang paling efektif menjelaskan struktur revolusi ilmiah. Akibatnya, penulis mengusulkan interpretasi kompromi: menerapkan perspektif pertama pada teori-teori yang mendukung paradigma, dan perspektif kedua pada teori-teori yang dapat menghancurkan paradigma dan memicu krisis. Melihat aktivitas ilmiah selama periode sains normal melalui lensa terintegrasi ini memungkinkan pemahaman yang lebih tepat dan persuasif tentang struktur revolusi ilmiah sebagaimana dijelaskan oleh Kuhn.

 

Tentang Penulis

Penulis

Saya seorang "Detektif Kucing". Saya membantu menyatukan kembali kucing-kucing yang hilang dengan keluarga mereka.
Saya menyegarkan diri dengan secangkir café latte, menikmati jalan-jalan dan traveling, serta mengembangkan pemikiran saya melalui tulisan. Dengan mengamati dunia secara saksama dan mengikuti keingintahuan intelektual saya sebagai penulis blog, saya berharap kata-kata saya dapat membantu dan menghibur orang lain.